Pages

Wednesday, December 30, 2015

Sepucuk Surat Akhir Tahun

Saudaraku sekalian, apa yang anda harapkan terjadi di tahun 2016?

Seperti tahun tahun sebelumnya, kita kerap menentukan resolusi di akhir tahun untuk sebuah perubahan di tahun berikutnya, yang sebentar lagi akan tiba. Entah itu memang benar sebuah resolusi atau sekadar ungkapan latah ikut ikutan rekan sejawat. Andalah yang tahu kepastian itu. Untuk saat ini, yang sudah pasti, pesta kembang api tentu akan sangat meriah. Namun, sebelum berpesta mari kita lihat apa yang akan membuat anda merinding!

Ramalan yang menakutkan.

Michael Nostradamus yang merupakan pengarang ramalan ternama di dunia sejak tahun 1555, meramalkan banyak hal yang menakutkan akan terjadi di 2016 ini. Mulai dari cuaca bumi yang makin aneh dimana salju tidak turun tepat waktu, dan begitu juga hujan tropis yang semakin pelit dengan kucuran airnya. Timur tengah di klaim akan semakin kacau termasuk konflik antara Iraq dengan Afganistan. Nasib Israel yang tetap pada posisinya, tidak jelas - yang diikuti oleh merosotnya perekonomian dunia. Barrack Obama di gadang gadang sebagai presiden terakhir Amerika yang kemudian, dalam ramalannya, ia juga berkata jika kemungkinan inilah akhir dunia alias kiamat. 

Apa fakta dibalik itu?

Untungnya, dari sekian kali kita dihadapkan dengan ramalan selalu saja meleset, paling tidak, kurang akurat. Sebut saja apa kata suku Maya yang sudah ngerjain rumah produksi film Holywood, yang dengan lantang mengatakan bahwa 2012 merupakan saatnya dunia kiamat. Ramalan ini di filmkan lewat film berjudul '2012.' Tentu anda sudah menontonnya. Baiklah, mungkin saja kiamat terjadi bagi segelintir orang yang diciduk KPK karena korupsi. Namun, pada kenyataannya kita masih survive hingga kini. Bahkan ada banyak hal positif yang terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Setuju?

Bagimana kita menyikapinya?

Kita tidak semestinya terlarut dalam ramalan siapapun. Kita hidup didunia nyata dimana usaha kita lebih menetukan apa yang akan kita petik di kemudian hari. Sampah yang kita buang sembarangan di sepanjang tahun 2015 akan kita petik akibatnya di tahun 2016. bantuan kita kepada fakir miskin yang kita sodorkan di tahun 2015 akan kita petik nikmatnya di tahun 2016, mungkin di tahun depannya; bisa dalam bentuk rejeki, kelancaran dan bahkan kesehatan. Hal hal lain yang sifatnya tidak terduga sudah ada yang mengaturnya, termasuk kematian tentunya. Apapun yang sudah terjadi di tahun tahun yang sudah berlalu, apapun yang dikatakan oleh para peramal, mari kita tetap pada keteguhan hati kita - menuju masa depan yang lebih baik.

Lantas apa resolusi anda sebenarnya?

Mengingat kita semua berpijak diatas planet hospitality, maka harapan kita akan sebuah 'peningkatan' di masa depan (tahun 2016) tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Peningkatan dalam hal ini bisa berupa revenue, occupancy, profit share, kepuasan tamu, keharmonisan antar individu dan - yang tidak kalah pentingnya - karir anda. Beralih pada skala yang lebih besar, kita semua tentu juga berharap untuk bisa meningkatkan rasa solidaritas kita antar sesama, yang beberapa waktu lalau mulai tergerus oleh berbagai konflik di sekitar kita. Semua resolusi tersebut hanya akan tercapai jika kita mau bahu membahu untuk mewujudkannya. Jangan lupa bahwa kita ditakdirkan sebagai makhluk sosial dimana dukungan orang lain akan memberikan banyak manfaat di kehidupan ini.

Jadi, seberapa banyak kita berguna bagi orang lain, itulah yang sejatinya perlu kita pupuk. Jika semua dari kita mau berjalan di koridor yang sama, maka, puji tuhan, kita akan hidup damai sentosa. Ramalan mereka tentang apa yang mungkin terjadi di tahun 2016 akan menjadi usang secara otomatis.

Resolusi saya tidak muluk muluk, saya ingin bisa berbagi lebih banyak lagi bersama kalian semua. Sebagai bentuk integritas atas resolusi berbagi ini, seperti yang sudah saudara semua ketahui, semoga hasil karya saya dalam bentuk buku yang berjudul "Mendulang Uang dan Karir di Dunia Butler" bisa bermanfaat untuk perkembangan karir dan keuangan anda di tahun 2016. Semoga setengah bagian pertama buku ini bisa dijadikan sebagai pelecut motivasi anda untuk segera keluar dari zona nyaman dan kemudian memulai karir impian anda pada posisi yang lebih tinggi. Semoga juga bagian akhirnya bisa dijadikan panduan untuk kemudahan anda memulai karir di dunia perhotelan, khususnya butler. Kini saya sedang berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan buku ke dua yang masih bergelut di sektor butler. Tunggu saja!

Nah, kenapa kita sering gagal mencapai puncak resolusi?      

Apakah di awal saya mengatakan 'latah?' Iya, kita kerap latah dalam menentukan resolusi. Kekuatan latah ini sangat lemah. Ia di tentukan tanpa pemikiran logis. Kadang anda hanya mengatakan bahwa resolusi anda adalah 'menjadi kaya' tanpa didukung 'tindakan' untuk menggapainya. Komitmen yang lemah juga bertanggungjawab atas kegagalan kita menggapai resolusi. Banyak yang ingin mulai berhenti merokok di awal tahun namun kebablasan di minggu ke dua. Lemahnya komitmen inilah yang semestinya paling kita takuti, bukan ramalan Nostradamus dan bukan pula Monyet Api ini. Disini bisa kita simpulkan bahwa menentukan resolusi tetaplah penting sebagai acuan kita kedepannya. Dan yang terpenting setelah itu adalah komitmen kita untuk menggapainya. Tanpa komitmen buku saya tidak akan pernah beredar hingga sekarang. Semoga surat terbuka ini benar benar bermanfaat, sakti bagi pembaca sekalian.

Selamat Tahun Baru 2016, saudara saudaraku semua!


Hormat saya,


Komang Swesen
www.swesen.com

NB.
Promosi buku saya perpanjang hingga Pertengahan Januari 2016 dimana harga sudah termasuk ongkos kirim.  

Monday, December 28, 2015

Bagaimana Memenangkan Persaingan Karir di Dunia Perhotelan?

 Buku tentang butler
Sejujurnya, semua orang yang bekerja di dunia perhotelan menginginkan posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Ketika kita di posisi staff terbawah maka posisi penyelia (supervisor) merupakan mimpi awal sebelum ngelantur dengan khayalan tingkat tinggi di posisi General Manager. Hal ini terjadi di masing masing divisi; entah itu divisi housekeeping, F&B, front office, landscaping dan lain sebagainya. 

Berita buruknya, semakin tinggi posisi yang kita inginkan semakin langka pula kans yang tersedia. Sebuah divisi yang beranggotakan 50 orang mungkin memiliki sekitar 4 sampai 6 posisi penyelia. Tapi posisi diatasnya, seperti misalnya asisten manajer, tidak akan lebih dari 2 orang, bahkan di beberapa tempat hanya memiliki 1 orang saja untuk posisi ini. Satu hal yang sudah pasti yaitu hanya ada satu posisi manajer puncak.

Kemudian, manajer puncak didivisi ini akan bersaing dengan manajer puncak dari divisi lainnya. Jika hotel tersebut memiliki 4 divisi maka minimal ada 3 lawan yang harus ditaklukan untuk posisi yang lebih tinggi, misalnya General Manager ataupun EAM. Kadang malah lebih karena penjabat posisi asisten manajer tekadang merupakan orang dekat pemegang kuasa yang bisa saja nelikung di tikungan terakhir. 

Tentu saja tidak semua tempat memiliki orang sakti yang bisa nelikung seenaknya. Anggap saja tempat kerja anda bermain fair dimana kualifikasi lebih diutamakan alih alih hubungan pribadi. Lantas bagaimana anda bisa bersaing dari posisi paling bontot menuju level manajerial?

Sebut saja persyaratan untuk posisi tertentu, contohnya assistant housekeeping manager, minimal memiliki enam keunggulan dan ada dua kandidat yang akan bertarung. Kebetulan masing masing kandidat memenuhi ke enam kriteria tadi. Sudah pasti tidak mungkin mendaulat keduanya untuk posisi itu karena hanya satu saja yang dibutuhkan. Maka pertimbangan terakhir akan jatuh pada pengetahuan yang sifatnya konseptual dimana sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan pekerjaan itu secara langsung. Contohnya dalam hal ini adalah skill surat menyurat. Di housekeeping kegiatan surat menyurat tidak terlalu krusial. Proyeksi pekerjaan di divisi ini lebih ke arah fisik alih alih administrasi. Tapi dengan satu keunggulan (surat menyurat) maka kandidat yang satu bisa lebih di pertimbangkan daripada yang tidak memiliki skill tambahan ini. Di tempat kerja saya kadang orang lebih diprioritaskan hanya karena memiliki skill mengemudi mobil walaupun penggunaannya tidak begitu intens. 

Berita baiknya, seorang butler memiliki kans yang lebih banyak daripada staff lain dari divisi manapun. Butler lumayan hatam untuk membahas hal hal menyangkut F&B, mengerti tata cara pembersihan kamar, terbiasa membantu pekerjaan di bar, bermarkas di divisi front office dan terkadang diperbantukan untuk penjemputan tamu di airport. Nah, jika seorang butler bersaing untuk sebuah posisi asisten manajer di divisi manapun maka sudah hampir bisa dipastikan ia akan menang secara 'unanimous' dengan kata lain mutlak. Simple saja, ia memiliki kualifikasi tambahan secara berlebih dibanding kandidat dari divisi lain yang hanyastrong di divisi tersebut saja.

Masih mikir mikir juga mau jadi butler? 
Image courtesy: molto.co.id

Friday, December 25, 2015

Ingin Jadi Butler Sekaligus Dermawan?



Sesuai janji di laman website saya maka berikut adalah maksud yang tersirat dari pesan tersebut. Sebelum melanjutkan pada detil sumbangan saya hendak mengajak anda untuk melihat lebih dekat kenapa saya berniat melakukan ini.

Semuanya berawal ketika saya menyaksikan beberapa tokoh terkenal yang merelakan sebagian hartanya disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. Sebut saja Bill Gates yang hingga kini sudah menghabiskan puluhan juta Dollar untuk membantu berbagai yayasan didunia, legenda F1 Michael Schumacher, mendiang Marco Simoncelli, Valentino Rossi dan masih banyak lagi. 

Jika anda berpikir bahwa mereka mau menyumbang karena posisi mereka sudah mapan secara finansial bisa jadi sebuah alasan yang dapat diterima.

Namun, jika anda pernah menyaksikan acara Talk Show (kemungkinan dalam acara Kick Andy) maka anda akan mengerti kenapa saya juga ikut tergugah untuk melakukan hal yang sama. Para tokoh dermawan di acara Kick Andy ini merupakan orang biasa yang tidak bergelimang harta. Mereka memulainya begitu saja. Mereka merangkul orang orang soleh yang peduli akan sesama lewat jejaring sosial hingga akhirnya banyak donatur dari kalangan pengusaha ikut ambil bagian dibelakang layar. Tokoh dermawan dalam acara ini tidak sendiri; ada sekitar empat tokoh yang bergerak dibidang yang sama dengan cara yang berbeda. 

Salah satu celotehan mereka yang membuat saya merinding adalah ungkapan "Jika kita menunggu kaya baru nyumbang maka kita tidak akan pernah nyumbang." Mereka faham betul bahwa menjadi kaya sangatlah susah, namun untuk memulai menyumbang bisa dilakukan saat ini juga.

Kini, dengan terbitnya buku pertama saya yang berjudul Mendulang Uang dan Karir Di Dunia Butler saya hendak mengikuti jejak mereka. Tentu dengan cara saya.

Jadi begini, setiap penjualan buku atau kaos yang saya kumpulkan melalui website ini (termasuk jejaring sosial) akan saya sisihkan 5,000 Rupiah untuk sumbangan tetap ke berbagai yayasan maupun individu yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. Separo dari nominal tersebut merupakan sumbangan dari anda yang membeli produk saya dan separonya dari saya sendiri. Artinya, jika anda membeli sebuah buku dengan harga 55,000 maka sejatinya hanya 52,500 yang masuk ke rekening saya pribadi. Kemudian 2,500 untuk donasi. Ketika kita tiba diakhir bulan maka seluruh uang yang terkumpul (2,500 dikalikan jumlah pembeli) akan saya imbangi dengan nominal yang sama dari keuntungan penjualan produk ini. 

Contoh:

Jika saya bisa menjual 100 eksemplar bulan ini maka sama saja artinya saya mengumpulkan 250,000 dari anda (100 x 2,500 = 250,000). Secara otomatis saya juga akan menambahkan jumlah yang sama sehingga kita memiliki 500,000 untuk disumbangkan ke yayasan tertentu.

Siapa saja yang berhak mendapatkan sumbangan ini?

Ada banyak sekali yayasan kemanusiaan yang tumbuh saat ini. Ada Yayasan Sayangi Bali yang khusus membantu bayi bayi terlantar, Komunitas Taman Hati di Facebook yang selalu sukses membuat hati saya selalu tergugah untuk secepatnya memberikan bantuan, ada banyak individu lain yang sering dimuat di koran yang juga membutuhkan welas asih kita. Singkatnya, ada banyak sekali pos pos penyaluran untuk dana kita yang terkumpul.

Besarnya sumbangan akan saya batasi dengan dua pertimbangan; pertama jumlah dana yang terkumpul dan yang ke dua dengan memikirkan keberlangsungan sumbangan untuk bulan berikutnya. Target saya adalah untuk mencapai sebanyak mungkin yayasan yang memerlukan bantuan. Walaupun jumlah sumbangan kecil namun merata kesemua yayasan. 

Saya akan sediakan template yang bisa dengan mudah saya dokumentasikan sehingga para donatur (anda) sekalian bisa mengikuti perkembangan kemanusiaan kita melalui Facebook (yang belum 'like' Facebook saya silahkan kunjungi Page kami di Butler Hectic). 

Jadi dengan membeli baik buku maupun kaos di laman swesen.com maka anda tidak hanya mendapatkan ilmu tentang butler namun juga sudah mengubah diri anda menjadi seorang dermawan. Inilah maksud judul diatas.

Terimkasih atas partisipasinya dan saya doakan agar anda sekalian diberikan rejeki dan kesehatan yang melimpah.

A Book About Butler Has Just Launched



It has been a thrilling momen when I got my first book about Butler is out in print. The momen is begun by the time the book is on the way from the printing company heading right to my desk at work. 

I have, certainly, thanked all of my colleagues and those who were involved in driving me into the world of butler service. Without their presence the story will never be here now.

Besides, in the support of my colleagues I have successfully launched the book virtually. I am expecting the content of the book will melt down from one reader to another and another who is now taking part in the hospitality industry.

The book is classified into seven chapters covering the definition of butler service, challenge, composition, reasons, activities, tips and hospitality terminologies. The book itself is aimed to help hoteliers expanding their career through the life as a butler, whether they are now working as a receptionist, waiter/waitress, room maid, cook, front desk agent, gardener, pool boy and the list goes on. 

Why wait? Get your copy and enjoy reading! You can share your opinion about butler or about the book itself on our Facebook page - Butler Hectic - where others can contribute their thinking for you. Enjoy reading! >