Sejujurnya, semua orang yang bekerja di dunia perhotelan menginginkan posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Ketika kita di posisi staff terbawah maka posisi penyelia (supervisor) merupakan mimpi awal sebelum ngelantur dengan khayalan tingkat tinggi di posisi General Manager. Hal ini terjadi di masing masing divisi; entah itu divisi housekeeping, F&B, front office, landscaping dan lain sebagainya.
Berita buruknya, semakin tinggi posisi yang kita inginkan semakin langka pula kans yang tersedia. Sebuah divisi yang beranggotakan 50 orang mungkin memiliki sekitar 4 sampai 6 posisi penyelia. Tapi posisi diatasnya, seperti misalnya asisten manajer, tidak akan lebih dari 2 orang, bahkan di beberapa tempat hanya memiliki 1 orang saja untuk posisi ini. Satu hal yang sudah pasti yaitu hanya ada satu posisi manajer puncak.
Kemudian, manajer puncak didivisi ini akan bersaing dengan manajer puncak dari divisi lainnya. Jika hotel tersebut memiliki 4 divisi maka minimal ada 3 lawan yang harus ditaklukan untuk posisi yang lebih tinggi, misalnya General Manager ataupun EAM. Kadang malah lebih karena penjabat posisi asisten manajer tekadang merupakan orang dekat pemegang kuasa yang bisa saja nelikung di tikungan terakhir.
Tentu saja tidak semua tempat memiliki orang sakti yang bisa nelikung seenaknya. Anggap saja tempat kerja anda bermain fair dimana kualifikasi lebih diutamakan alih alih hubungan pribadi. Lantas bagaimana anda bisa bersaing dari posisi paling bontot menuju level manajerial?
Sebut saja persyaratan untuk posisi tertentu, contohnya assistant housekeeping manager, minimal memiliki enam keunggulan dan ada dua kandidat yang akan bertarung. Kebetulan masing masing kandidat memenuhi ke enam kriteria tadi. Sudah pasti tidak mungkin mendaulat keduanya untuk posisi itu karena hanya satu saja yang dibutuhkan. Maka pertimbangan terakhir akan jatuh pada pengetahuan yang sifatnya konseptual dimana sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan pekerjaan itu secara langsung. Contohnya dalam hal ini adalah skill surat menyurat. Di housekeeping kegiatan surat menyurat tidak terlalu krusial. Proyeksi pekerjaan di divisi ini lebih ke arah fisik alih alih administrasi. Tapi dengan satu keunggulan (surat menyurat) maka kandidat yang satu bisa lebih di pertimbangkan daripada yang tidak memiliki skill tambahan ini. Di tempat kerja saya kadang orang lebih diprioritaskan hanya karena memiliki skill mengemudi mobil walaupun penggunaannya tidak begitu intens.
Berita baiknya, seorang butler memiliki kans yang lebih banyak daripada staff lain dari divisi manapun. Butler lumayan hatam untuk membahas hal hal menyangkut F&B, mengerti tata cara pembersihan kamar, terbiasa membantu pekerjaan di bar, bermarkas di divisi front office dan terkadang diperbantukan untuk penjemputan tamu di airport. Nah, jika seorang butler bersaing untuk sebuah posisi asisten manajer di divisi manapun maka sudah hampir bisa dipastikan ia akan menang secara 'unanimous' dengan kata lain mutlak. Simple saja, ia memiliki kualifikasi tambahan secara berlebih dibanding kandidat dari divisi lain yang hanyastrong di divisi tersebut saja.
Masih mikir mikir juga mau jadi butler?
Image courtesy: molto.co.id

No comments:
Post a Comment