Pages

Showing posts with label perhotelan. Show all posts
Showing posts with label perhotelan. Show all posts

Thursday, January 21, 2016

Apakah Bekerja di Hotel Harus Melalui Sekolah Pariwisata?

Saya kaget sekaligus tersanjung ketika menerima udangan chat via BBM. Saat itu hampir memasuki jam tidur saya, sekitar jam 10 pm. Seseorang dari Tangerang menyapa saya dan memastikan bahwa saya pernah mengomentari 'thread' beliau belum lama ini.

Beliau mengutarakan maksudnya mengajak saya chatting malam itu yang tidak lain bahwa ia ingin sekali bekerja di hotel namun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang ini. Ia lulusan sekolah umum dan mengambil gelar design di Singapura. Ilmu tambahan yang ia ambil juga tentang photography. Ilmu perhotelan benar benar terkesampingkan. 

Entah angin apa yang membawanya malam itu tiba tiba ia ingin bekerja di dunia perhotelan. 

Kalau mau jujur, sebetulnya bekerja di dunia perhotelan itu tidak sesulit yang di bayangkan. Mungkin hal ini terjadi juga di sektor lain pada umumnya. Semua pekerjaan sebetulnya bisa di pelajari asalkan orang itu memiliki niat yang kuat untuk menguasai pekerjaan itu. Rintangan tersulit tidak lain adalah saat anda berhadapan dengan departemen perekrutan. Meyakinkan seseorang bahwa anda bisa melakukan pekerjaan dengan baik tanpa latar belakang perhotelan tidaklah mudah. 

Namun, bukan berarti tidak ada jalan menuju pekerjaan impian ini. Dalam buku saya yang berjudul "Mendulang Uang dan Karir di Dunia Butler" dibahas trik trik jitu untuk memulai karir didunia Butler dimana poin poin ini bisa di sesuaikan dengan kondisi anda saat ini. Kondisi dimana anda datang dari luar dunia perhotelan. Cara kerjanya sama saja. 

Anda membutuhkan motivasi kelas super untuk melawan rasa jenuh ketika rintangan untuk bergabung di dunia hotel menghadang. Jika anda tidak punya relasi yang kuat di salah satu hotel anda masih punya harapan dengan melakukan magang terlebih dahulu. Di departemen apapun nantinya anda di tempatkan tidaklah penting. Hal utama saat ini adalah bergabung di hotel tersebut. 

Penting buat anda untuk membaca buku perhotelan sehingga saat interview nanti anda paling tidak sudah tahu seluk beluk pekerjaan itu walaupun tidak secara mendetil. Keuntungan lainnya dari membaca buku jenis ini yaitu sang perekrut akan menilai bahwa anda serius atas keinginan anda untuk mulai berkarir di dunia perhotelan. 

Monggo segera di terapkan. Tunggu apalagi? 


Monday, December 28, 2015

Bagaimana Memenangkan Persaingan Karir di Dunia Perhotelan?

 Buku tentang butler
Sejujurnya, semua orang yang bekerja di dunia perhotelan menginginkan posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Ketika kita di posisi staff terbawah maka posisi penyelia (supervisor) merupakan mimpi awal sebelum ngelantur dengan khayalan tingkat tinggi di posisi General Manager. Hal ini terjadi di masing masing divisi; entah itu divisi housekeeping, F&B, front office, landscaping dan lain sebagainya. 

Berita buruknya, semakin tinggi posisi yang kita inginkan semakin langka pula kans yang tersedia. Sebuah divisi yang beranggotakan 50 orang mungkin memiliki sekitar 4 sampai 6 posisi penyelia. Tapi posisi diatasnya, seperti misalnya asisten manajer, tidak akan lebih dari 2 orang, bahkan di beberapa tempat hanya memiliki 1 orang saja untuk posisi ini. Satu hal yang sudah pasti yaitu hanya ada satu posisi manajer puncak.

Kemudian, manajer puncak didivisi ini akan bersaing dengan manajer puncak dari divisi lainnya. Jika hotel tersebut memiliki 4 divisi maka minimal ada 3 lawan yang harus ditaklukan untuk posisi yang lebih tinggi, misalnya General Manager ataupun EAM. Kadang malah lebih karena penjabat posisi asisten manajer tekadang merupakan orang dekat pemegang kuasa yang bisa saja nelikung di tikungan terakhir. 

Tentu saja tidak semua tempat memiliki orang sakti yang bisa nelikung seenaknya. Anggap saja tempat kerja anda bermain fair dimana kualifikasi lebih diutamakan alih alih hubungan pribadi. Lantas bagaimana anda bisa bersaing dari posisi paling bontot menuju level manajerial?

Sebut saja persyaratan untuk posisi tertentu, contohnya assistant housekeeping manager, minimal memiliki enam keunggulan dan ada dua kandidat yang akan bertarung. Kebetulan masing masing kandidat memenuhi ke enam kriteria tadi. Sudah pasti tidak mungkin mendaulat keduanya untuk posisi itu karena hanya satu saja yang dibutuhkan. Maka pertimbangan terakhir akan jatuh pada pengetahuan yang sifatnya konseptual dimana sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan pekerjaan itu secara langsung. Contohnya dalam hal ini adalah skill surat menyurat. Di housekeeping kegiatan surat menyurat tidak terlalu krusial. Proyeksi pekerjaan di divisi ini lebih ke arah fisik alih alih administrasi. Tapi dengan satu keunggulan (surat menyurat) maka kandidat yang satu bisa lebih di pertimbangkan daripada yang tidak memiliki skill tambahan ini. Di tempat kerja saya kadang orang lebih diprioritaskan hanya karena memiliki skill mengemudi mobil walaupun penggunaannya tidak begitu intens. 

Berita baiknya, seorang butler memiliki kans yang lebih banyak daripada staff lain dari divisi manapun. Butler lumayan hatam untuk membahas hal hal menyangkut F&B, mengerti tata cara pembersihan kamar, terbiasa membantu pekerjaan di bar, bermarkas di divisi front office dan terkadang diperbantukan untuk penjemputan tamu di airport. Nah, jika seorang butler bersaing untuk sebuah posisi asisten manajer di divisi manapun maka sudah hampir bisa dipastikan ia akan menang secara 'unanimous' dengan kata lain mutlak. Simple saja, ia memiliki kualifikasi tambahan secara berlebih dibanding kandidat dari divisi lain yang hanyastrong di divisi tersebut saja.

Masih mikir mikir juga mau jadi butler? 
Image courtesy: molto.co.id

Friday, December 25, 2015

Ingin Jadi Butler Sekaligus Dermawan?



Sesuai janji di laman website saya maka berikut adalah maksud yang tersirat dari pesan tersebut. Sebelum melanjutkan pada detil sumbangan saya hendak mengajak anda untuk melihat lebih dekat kenapa saya berniat melakukan ini.

Semuanya berawal ketika saya menyaksikan beberapa tokoh terkenal yang merelakan sebagian hartanya disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. Sebut saja Bill Gates yang hingga kini sudah menghabiskan puluhan juta Dollar untuk membantu berbagai yayasan didunia, legenda F1 Michael Schumacher, mendiang Marco Simoncelli, Valentino Rossi dan masih banyak lagi. 

Jika anda berpikir bahwa mereka mau menyumbang karena posisi mereka sudah mapan secara finansial bisa jadi sebuah alasan yang dapat diterima.

Namun, jika anda pernah menyaksikan acara Talk Show (kemungkinan dalam acara Kick Andy) maka anda akan mengerti kenapa saya juga ikut tergugah untuk melakukan hal yang sama. Para tokoh dermawan di acara Kick Andy ini merupakan orang biasa yang tidak bergelimang harta. Mereka memulainya begitu saja. Mereka merangkul orang orang soleh yang peduli akan sesama lewat jejaring sosial hingga akhirnya banyak donatur dari kalangan pengusaha ikut ambil bagian dibelakang layar. Tokoh dermawan dalam acara ini tidak sendiri; ada sekitar empat tokoh yang bergerak dibidang yang sama dengan cara yang berbeda. 

Salah satu celotehan mereka yang membuat saya merinding adalah ungkapan "Jika kita menunggu kaya baru nyumbang maka kita tidak akan pernah nyumbang." Mereka faham betul bahwa menjadi kaya sangatlah susah, namun untuk memulai menyumbang bisa dilakukan saat ini juga.

Kini, dengan terbitnya buku pertama saya yang berjudul Mendulang Uang dan Karir Di Dunia Butler saya hendak mengikuti jejak mereka. Tentu dengan cara saya.

Jadi begini, setiap penjualan buku atau kaos yang saya kumpulkan melalui website ini (termasuk jejaring sosial) akan saya sisihkan 5,000 Rupiah untuk sumbangan tetap ke berbagai yayasan maupun individu yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. Separo dari nominal tersebut merupakan sumbangan dari anda yang membeli produk saya dan separonya dari saya sendiri. Artinya, jika anda membeli sebuah buku dengan harga 55,000 maka sejatinya hanya 52,500 yang masuk ke rekening saya pribadi. Kemudian 2,500 untuk donasi. Ketika kita tiba diakhir bulan maka seluruh uang yang terkumpul (2,500 dikalikan jumlah pembeli) akan saya imbangi dengan nominal yang sama dari keuntungan penjualan produk ini. 

Contoh:

Jika saya bisa menjual 100 eksemplar bulan ini maka sama saja artinya saya mengumpulkan 250,000 dari anda (100 x 2,500 = 250,000). Secara otomatis saya juga akan menambahkan jumlah yang sama sehingga kita memiliki 500,000 untuk disumbangkan ke yayasan tertentu.

Siapa saja yang berhak mendapatkan sumbangan ini?

Ada banyak sekali yayasan kemanusiaan yang tumbuh saat ini. Ada Yayasan Sayangi Bali yang khusus membantu bayi bayi terlantar, Komunitas Taman Hati di Facebook yang selalu sukses membuat hati saya selalu tergugah untuk secepatnya memberikan bantuan, ada banyak individu lain yang sering dimuat di koran yang juga membutuhkan welas asih kita. Singkatnya, ada banyak sekali pos pos penyaluran untuk dana kita yang terkumpul.

Besarnya sumbangan akan saya batasi dengan dua pertimbangan; pertama jumlah dana yang terkumpul dan yang ke dua dengan memikirkan keberlangsungan sumbangan untuk bulan berikutnya. Target saya adalah untuk mencapai sebanyak mungkin yayasan yang memerlukan bantuan. Walaupun jumlah sumbangan kecil namun merata kesemua yayasan. 

Saya akan sediakan template yang bisa dengan mudah saya dokumentasikan sehingga para donatur (anda) sekalian bisa mengikuti perkembangan kemanusiaan kita melalui Facebook (yang belum 'like' Facebook saya silahkan kunjungi Page kami di Butler Hectic). 

Jadi dengan membeli baik buku maupun kaos di laman swesen.com maka anda tidak hanya mendapatkan ilmu tentang butler namun juga sudah mengubah diri anda menjadi seorang dermawan. Inilah maksud judul diatas.

Terimkasih atas partisipasinya dan saya doakan agar anda sekalian diberikan rejeki dan kesehatan yang melimpah.